Sunday, April 16, 2017

Indonesia Resmi Melayani Jasa Pemanduan Kapal Di Selat Malaka Dan Singapura

Indonesia Resmi Melayani Jasa Pemanduan Kapal Di Selat Malaka Dan Singapura

Indonesia resmi melayani jasa pemanduan di Selat Malaka dan Singapura. Kementerian Perhubungan telah menunjuk Pelindo I untuk melakukan pemanduan di kedua selat tersebut.

Kementerian Perhubungan memang telah menargetkan dapat melayani pemanduan kapal yang melintasi Selat Malaka dan Selat Singapura tahun 2017. Pasalnya, kedua perairan tersebut merupakan salah satu kawasan terpenting jalur laut di Kawasan Asia Tenggara. Meskipun jalur laut sempit, namun banyak dilalui kapal dari berbagai negara setiap tahunnya.

Data Kementerian Perhubungan terdapat sekitar 70.000- 80.000 kapal pertahun baik itu kapal kargo maupun kapal tanker yang berlayar melintasi kedua selat tersebut.

Direktur Jenderal Perhubungan Laut, A. Tonny Budiono, mengatakan padatnya kondisi jalur pelayaran di selat tersebut membuatnya rawan terhadap kecelakaan sehingga pemanduan sangat penting dalam menjamin keselamatan pelayaran bagi kapal-kapal yang berlayar.

"Begitu pentingnya keselamatan pelayaran di Selat Malaka dan singapura, pemanduan di Selat Malaka dan Selat Singapura dibahas khusus oleh tiga negara, Indonesia, Malaysia dan Singapura dalam forum Tripartite Technical Expert Group (TTEG) yang diselenggarakan tiap tahun," kata Tonny,

Adapun Perairan Selat Malaka dan Selat Singapura merupakan salah satu perairan Perairan Pandu Luar Biasa (voluntary pilotage services).


Tonny menyebutkan, kesiapan pemanduan ini dilakukan guna memperkuat keselamatan pelayaran dan perlindungan lingkungan maritim di perairan teritorial Indonesia, karena Selat Malaka dan Selat Singapura memiliki peran yang sangat penting berkaitan dengan pelayaran internasional dan ini juga menjadi fokus perhatian dari International Maritime Organization (IMO).

Tonny meyakini, dengan diresmikannya Pelayanan Pemanduan di Perairan Pandu Luar Biasa di Selat Malaka dan Selat Singapura oleh Menteri Perhubungan, menunjukkan keseriusan Indonesia terhadap peningkatan keselamatan pelayaran di jalur internasional tersebut.

Hal ini juga menjadikan Indonesia menjadi Negara (littoral states) pertama yang menyelenggarakan pandu secara resmi pertama di selat Malaka dan Selat Singapura.

artikel terkait:


Adapun kapal yang memanfaatkan jasa pemanduan Pelindo I di Perairan Pandu Luar Biasa di Selat Malaka dan Selat Singapura adalah Kapal S.S. Tangguh Batur. Kapal jenis LNG Tanker yang di Nakhodai Capt. Boris Muskardin merupakan kapal berbendera Singapura dengan panjang kapal 285,4 meter dan memiliki bobot kapal 97.432 GT berlayar dari Lhokseumawe menuju Bintuni.

--------------------------------------------

international freight forwarder in indonesia - quantum indonesia

Wednesday, April 12, 2017

Pelindo I Akan Datangkan Kapal Kontainer Ke Pelabuhan Internasional Krueng Geukeuh Lhokseumawe Aceh

Pelindo I Akan Datangkan Kapal Kontainer Ke Pelabuhan Internasional Krueng Geukuh Lhokseumawe Aceh

Dalam upaya meningkatkan pelayanan kepada pelaku usaha dan investor di Pelabuhan Internasional Krueng Geukeuh, Lhokseumawe, Aceh. PT Pelindo I akan datangkan kapal khusus kontainer untuk mengangkut produk sumber daya alam (SDA) di Aceh agar bisa di ekspor ke pasar internasional.

"Kami komit untuk memajukan Pelabuhan Internasional Krueng Geukuh Lhokseumawe dan Pelabuhan Malahayati Banda Aceh," kata Direktur Keuangan PT Pelindo I, Farid Luthfi usai membuka Festival Kuliner dan Budaya di Lapangan Bekas Pelabuhan Lhokseumawe, Sabtu (8/4/2017).

Farid menyebutkan khusus di Pelabuhan Krueng Geukuh, pihaknya akan mendatangkan kapal khusus untuk kontainer. Dengan adanya kapal itu, pastinya biaya angkut lebih murah, dan barangnya pun pasti tidak mahal.


"Nanti kapalnya rutin, untuk awal-awal kita buat satu atau dua kali dalam sebulan. Adanya kapal ini agar biaya lebih murah. Para pengusaha nanti mengirim barang sudah bisa melalui Pelabuhan Krueng Geukuh. Biaya ekspor murah, harga jual dan beli barang pun pasti akan stabil," tambah Farid.

Farid berharap, dengan adanya komitmen Pelindo I, nantinya barang-barnag yang ada di Aceh bisa di promo ke mancanegara supaya ekonomi masyarakat Aceh terus meningkat apalagi di topang lahirnya Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Arun, Lhokseumawe, ini merupakan program multiplier effect.

Di sisi lain, Farid menepis kalau selama ini ada isu intervensi yang dilakukan pihak Medan, Sumatera Utara terhadap pengembangan pelabuhan di Aceh.

artikel terkait:
"Itu tidak benar. Malah selama ini kita ingin memajukan pelabuhan di Aceh. Semua unsur sudah komitmen termasuk para investor dan perusahaan-perusahaan pendukung lainnya," sebut Farid.

--------------------
international freight forwarding in Aceh - quantum indonesia